Cara Menghitung Kebutuhan Scaffolding untuk Proyek Bangunan

Enam parameter spesifikasi scaffolding sebelum memesan: dimensi rangka, diameter dan tebal dinding pipa, mutu baja, finishing permukaan, kelengkapan aksesori, dan dokumen material

Kebutuhan scaffolding dihitung dengan membagi panjang bidang kerja dengan jarak antar frame untuk mendapat jumlah lajur, lalu membagi tinggi kerja dengan tinggi satu frame untuk mendapat jumlah tingkat. Hasil keduanya dikalikan menjadi jumlah main frame, cross brace, join pin, dan jack base. Perancah penyangga cor dihitung berbeda, yaitu berdasarkan beban rencana, bukan luas bidang.

Cara pakai

Sebelum menghitung, siapkan lima angka dari gambar kerja atau pengukuran lapangan:

  1. Panjang bidang kerja dalam meter, diukur menyusuri dinding atau area yang akan dikerjakan.
  2. Tinggi titik kerja tertinggi dari permukaan pijakan perancah, bukan dari muka tanah asli kalau ada beda elevasi.
  3. Tinggi main frame yang tersedia di pemasok. Ukuran yang umum beredar di Indonesia adalah 170 cm dan 190 cm.
  4. Panjang cross brace, karena inilah yang menentukan jarak efektif antar frame. Silangan 193 cm dan 219 cm adalah dua ukuran yang paling sering dipakai.
  5. Jenis pekerjaan, apakah perancah dipakai sebagai akses kerja atau sebagai penyangga bekisting.

Poin kelima menentukan seluruh metode perhitungan, jadi tetapkan lebih dulu sebelum menyentuh angka. Perancah akses dihitung dari geometri bidang kerja. Perancah penyangga dihitung dari beban yang harus dipikul. Menyamakan keduanya adalah kesalahan yang paling sering terjadi di proyek kecil, dan konsekuensinya bukan sekadar kelebihan atau kekurangan material.

Angka tinggi frame dan panjang silangan di atas adalah ukuran yang lazim di pasar, bukan standar tunggal. Ambil dimensi pasti dari spesifikasi pemasok yang akan Anda pakai, karena selisih beberapa sentimeter pada silangan menggeser jumlah lajur untuk bidang yang panjang.

Dasar perhitungan

Perbandingan metode perhitungan perancah akses yang dihitung dari geometri bidang kerja dengan perancah penyangga bekisting yang dihitung dari beban rencana

Perancah akses untuk pekerjaan fasad

Menghitung jumlah lajur memanjang:
Jumlah lajur = Panjang bidang kerja ÷ Jarak efektif antar frame (dibulatkan ke atas)

Jarak efektif antar frame berasal dari panjang cross brace, umumnya jatuh di kisaran 1,8 sampai 2,2 m tergantung ukuran silangan. Angka pastinya ada di spesifikasi pemasok.
Menghitung jumlah tingkat:

Jumlah tingkat = (Tinggi titik kerja − 1,5) ÷ Tinggi main frame (dibulatkan ke atas)

Angka 1,5 m adalah jangkauan kerja yang wajar dari permukaan platform. Tanpa pengurangan ini, susunan perancah jadi lebih tinggi dari yang dibutuhkan, dan itu menambah beban serta kebutuhan pengikat tanpa manfaat.

Setelah dua angka tersebut didapat, jumlah komponen mengikuti pola berikut:

KomponenRumusAlasan
Main frame(Jumlah lajur + 1) × Jumlah tingkatLajur berbagi frame, jadi selalu ada satu frame lebih banyak dari jumlah lajur
Cross brace2 × Jumlah lajur × Jumlah tingkatSetiap lajur diikat dua silangan, sisi dalam dan sisi luar
Join pinJumlah main frame per tingkat × (Jumlah tingkat − 1) × 2Setiap frame punya dua kaki yang harus disambung ke tingkat di atasnya
Jack baseJumlah main frame per tingkat × 2Hanya dipasang di tingkat paling bawah
Catwalk(Lebar frame ÷ Lebar catwalk, dibulatkan ke atas) × Jumlah lajurDihitung per tingkat yang benar-benar dipakai sebagai platform

Baris pertama tabel adalah sumber kesalahan yang paling sering. Tujuh lajur tidak berarti empat belas frame per tingkat, melainkan delapan, karena frame di antara dua lajur dipakai bersama. Kalau Anda memesan berdasarkan hitungan lajur dikali dua, material akan berlebih.

Perhatikan juga baris catwalk. Permenaker No. 1 Tahun 1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan, pada Bab III yang mengatur perancah di Pasal 12 sampai 23, mensyaratkan lantai kerja tertutup rapat. Memasang empat papan pada lebar frame 122 cm menyisakan celah, dan celah itu adalah pelanggaran, bukan penghematan.

Scaffolding penyangga untuk bekisting

Perancah penyangga tidak dihitung dari luas, tetapi dari beban. Urutannya:

1. Beban rencana per m² = Berat beton basah + Berat bekisting + Beban kerja
2. Luas tributari per kaki = Kapasitas izin per kaki ÷ Beban rencana per m²
3. Jarak grid maksimum = akar dari Luas tributari per kaki

Berat beton bertulang basah umumnya diambil 2.400 kg/m³, angka yang dipakai sebagai acuan dalam standar pembebanan SNI 1727. Untuk pelat setebal 12 cm, komponen beton saja sudah menyumbang sekitar 288 kg/m², sebelum ditambah berat bekisting dan beban pekerja.

Kapasitas izin per kaki adalah variabel yang paling sering diisi asal. Angka ini bergantung pada mutu dan tebal dinding pipa, tinggi susunan, kelurusan pemasangan, serta kondisi sambungan. Ambil dari spesifikasi pabrikan atau mill certificate material yang benar-benar akan dikirim, bukan dari angka umum yang beredar. Perancah yang sama dengan tinggi berbeda punya kapasitas berbeda, karena tekuk pada batang tekan meningkat seiring panjang bebasnya.

Sebagai pembanding internasional, OSHA 1926 Subpart L mensyaratkan perancah mampu memikul berat sendiri ditambah sekurang-kurangnya empat kali beban rencana maksimum. Regulasi Indonesia tidak menyebut angka faktor keamanan sejelas itu, tetapi Permenaker No. 1 Tahun 1980 mewajibkan perancah kuat memikul beban dengan aman, sehingga penerapan faktor keamanan tetap menjadi tanggung jawab perencana.

Asumsi dan batasan

Rumus di atas berlaku untuk kondisi normal dan berhenti berlaku pada beberapa keadaan berikut.

Permukaan pijakan tidak rata atau lunak. Perhitungan mengasumsikan seluruh kaki bertumpu pada permukaan yang mampu memikul beban tanpa penurunan. Pada tanah urug atau permukaan miring, jack base saja tidak cukup dan perlu bantalan penyebar beban.

Bidang kerja tidak lurus. Sudut bangunan, tonjolan kolom, dan bukaan membuat lajur terpotong. Hitung tiap segmen lurus secara terpisah lalu jumlahkan, jangan memakai panjang keliling total.

Susunan berdiri bebas tanpa pengikat. Perancah yang tidak diikat ke struktur punya batas tinggi terhadap lebar dasarnya. Semakin ramping susunan, semakin cepat batas itu tercapai. Permenaker No. 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan pada Ketinggian menyinggung perancah pada Pasal 14 dan 15, dan pengikatan ke struktur adalah bagian dari pengendalian yang dimaksud. Interval pengikatnya ditetapkan perencana atau ahli K3, bukan diperkirakan di lapangan.

Satuan “1 set” berbeda antar penyedia. Sebagian menghitung satu set sebagai dua main frame, dua cross brace, dua join pin, dan dua jack base. Sebagian lain memasukkan catwalk atau tangga. Karena itu, konversikan hasil hitungan Anda ke satuan komponen lebih dulu, baru minta penyedia menerjemahkannya ke satuan set mereka. Menyebut jumlah set tanpa menyebut isinya hampir selalu berujung selisih saat barang datang.

Beban terpusat dan alat berat. Kalau ada pompa, mesin, atau material yang ditumpuk di platform, beban terpusatnya harus dihitung terpisah dan tidak boleh disamakan dengan beban kerja merata.

Contoh kasus

Contoh perhitungan scaffolding untuk fasad sepanjang 12 meter dengan titik kerja 7,5 meter, menghasilkan 7 lajur, 4 tingkat, 32 main frame, 56 cross brace, 48 join pin, 16 jack base, dan 42 catwalk per tingkat

Pekerjaan plester dan aci fasad ruko dua lantai.

Data awal

ParameterNilai
Panjang bidang kerja12 m
Titik kerja tertinggi7,5 m
Tinggi main frame1,7 m
Jarak efektif antar frame1,8 m
Lebar frame1,22 m

Perhitungan

Jumlah lajur = 12 ÷ 1,8 = 6,67, dibulatkan menjadi 7 lajur. Panjang yang tertutup menjadi 12,6 m, cukup dengan sisa di kedua ujung.

Jumlah tingkat = (7,5 − 1,5) ÷ 1,7 = 3,53, dibulatkan menjadi 4 tingkat. Tinggi susunan menjadi 6,8 m.

Kebutuhan komponen

KomponenPerhitunganJumlah
Main frame(7 + 1) × 432 batang
Cross brace2 × 7 × 456 batang
Join pin8 × 3 × 248 buah
Jack base8 × 216 buah
Catwalk per tingkat platform(122 ÷ 24, dibulatkan) × 742 lembar

Perhatikan main frame berjumlah 32, bukan 56. Kalau dihitung sebagai tujuh lajur dikali dua frame dikali empat tingkat, hasilnya 56 dan Anda memesan 24 frame yang tidak terpakai.

Angka catwalk mengasumsikan lebar papan 24 cm dan lantai kerja tertutup penuh sesuai Permenaker No. 1 Tahun 1980. Kalau pemasok menyediakan papan dengan lebar berbeda, hitung ulang baris ini.

Setelah daftar komponen selesai, tahap berikutnya adalah memastikan material yang tersedia benar-benar sesuai dimensi yang Anda pakai dalam perhitungan. Untuk proyek di Surabaya dan sekitarnya, Anda bisa mencocokkan hasil hitungan ini dengan ketersediaan dan cakupan layanan sewa scaffolding Gerbang Emas sebelum menetapkan jadwal mobilisasi. Kalau istilah komponen di atas masih terasa asing, pembahasan jenis, komponen, dan ukuran standar scaffolding beserta aturan K3-nya menjelaskan tiap bagian satu per satu.

Hubungi GES sekarang!

FAQ

Bagaimana cara menghitung jumlah set scaffolding yang dibutuhkan?

Hitung dulu dalam satuan komponen, bukan set. Bagi panjang bidang kerja dengan jarak antar frame untuk mendapat jumlah lajur, lalu bagi tinggi kerja dikurangi 1,5 m dengan tinggi frame untuk mendapat jumlah tingkat. Setelah jumlah main frame, cross brace, join pin, dan jack base didapat, barulah minta penyedia mengonversinya ke satuan set mereka, karena isi satu set berbeda antar perusahaan.

Apa bedanya menghitung perancah akses dan perancah penyangga cor?

Perancah akses dihitung dari geometri, yaitu panjang dan tinggi bidang kerja. Perancah penyangga dihitung dari beban, yaitu berat beton basah ditambah bekisting dan beban kerja, lalu dibagi kapasitas izin per kaki untuk mendapat jarak grid maksimum. Memakai metode geometri untuk pekerjaan penyangga cor berarti jarak antar kaki ditetapkan tanpa memeriksa apakah kakinya sanggup memikul beban.

Berapa tinggi maksimum scaffolding frame tanpa diikat ke struktur?

Batasnya ditentukan perbandingan tinggi terhadap lebar dasar, bukan angka tinggi tunggal yang berlaku untuk semua susunan. Semakin ramping dasarnya, semakin rendah batas amannya. Permenaker No. 1 Tahun 1980 mewajibkan perancah kuat memikul beban dengan aman, dan penetapan interval pengikat ke struktur menjadi tanggung jawab perencana atau ahli K3 yang menilai kondisi lapangan.

Apakah jumlah main frame selalu sama dengan jumlah cross brace?

Tidak. Cross brace selalu lebih banyak. Setiap lajur membutuhkan dua silangan, sedangkan frame dipakai bersama oleh dua lajur yang bersebelahan. Pada tujuh lajur dan empat tingkat, kebutuhannya 32 main frame berbanding 56 cross brace. Menyamakan keduanya adalah penyebab paling umum kelebihan pesanan frame di proyek berskala kecil.

Apa yang perlu disiapkan sebelum menghubungi penyedia scaffolding?

Siapkan panjang dan tinggi bidang kerja, jenis pekerjaan, kondisi permukaan pijakan, rencana durasi pemakaian, serta akses masuk kendaraan ke lokasi. Sertakan juga daftar komponen hasil hitungan Anda. Dengan data itu, penyedia bisa memverifikasi asumsi dimensi yang Anda pakai dan mengoreksi lebih awal, sebelum material terlanjur dikirim dan jadwal terganggu.

Similar Posts